Pentingnya Pengawetan Kayu di Negara Tropis

Pentingnya pengawetan kayu di negara tropis seperti Indonesia bukan merupakan isapan jempol belaka. Kondisi tropis memungkinkan kayu lebih cepat terdekomposisi sehingga dapat menyebabkan kerugian besar.

Di wilayah tropis, dekomposisi lebih cepat terjadi. Karenanya, pengawetan kayu penting dilakukan.
Di wilayah tropis, dekomposisi lebih cepat terjadi. Karenanya, pengawetan kayu penting dilakukan.

Indonesia sebagai negara di wilayah tropis memiliki resiko tinggi dalam hal pengolahan kayu. Hal ini dikarenakan iklim tropis memiliki kondisi lingkungan yang mempercepat dekomposisi kayu. Disamping itu variasi organisme perusak kayu di iklim tropis, baik serangga maupun jamur,  jauh lebih banyak dibandingkan di iklim subtropis.

Di samping kedua alasan di atas, ada dua hal lain yang juga penting diperhatikan. Pertama bahwa jenis kayu yang kuat di wilayah tropis tidak banyak. Sebagai contoh, di Filiphina terdapat 3500 spesies pohon yang dapat dimanfaatkan kayunya, namun hanya 10% dari spesies tersebut yang benar-benar kuat dan tahan lama.

Kedua adalah jarak antara hutan sebagai sumber kayu dengan pabrik-pabrik yang mengolah kayu biasanya relatif jauh. Hal ini memperbesar resiko kerusakan kayu akibat jamur atau serangga. Bahkan dalam beberapa kasus yang diteliti oleh FAO (badan PBB yang mengurusi pertanian dan agrikultur) ditemukan bahwa serangan serangga dan jamur tetap ada meskipun kayu sudah diolah menjadi produk jadi.

Penelitian FAO yang dilakukan pada tahun 60-an di atas juga menemukan bahwa negara-negara berkembang seperti Indonesia, Philipina, Malaysia dan Thailand memiliki kesadaran yang masih rendah akan pentingnya pengawetan kayu. Masih banyak pelaku produsen kayu yang enggan mengeluarkan uang untuk pengawetan kayu.

Penelitian di India menunjukkan bahwa harga kayu yang melalui proses pengawetan kayu akan lebih mahal 20% dibanding kayu yang tidak menjalani proses pengawetan. Kayu-kayu yang diawetkan tersebut digunakan untk tiang listrik dan bantalan rel kereta api. Ternyata kayu yang menjalani proses pengawetan akan bertahan 4 hingga 8 kali lebih lama dibanding kayu yang tidak diawetkan.

Penelitian FAO juga menemukan bahwa produk bambu yang tidak melalui proses pengawetan hanya akan bertahan 3 hingga 5 tahun. Namun dengan proses pengawetan, bambu dapat bertahan hingga 15 tahun.

Pengawetan kayu adalah proses yang memberikan nilai tambah bagi konsumen pengguna. Oleh karena itu beberapa negara mulai menerapkan aturan bahwa kayu yang masuk ke negaranya harus sudah diawetkan. Contohnya adalah Sertifikasi Phytosanitary yang diterbitkan oleh Uni-Eropa untuk memastikan bahwa kayu yang masuk ke eropa harus bebas dari berbagai mikroorganisme perusak kayu. Oleh karena itulah, sebenarnya proses pengawetan kayu adalah sesuatu yang penting diusahakan. Terutama apabila skala usaha ingin diperlebarhingga ke Uni Eropa. Namun, proses ini tentunya tidak bisa dilakukan sembarangan. Dalam proses pengawetan kayu, perlu diperhatikan pula kualitas pengawet yang digunakan.

Pilih Pengawet yang Bagus dan Bisa Diaplikasikan secara Fleksibel dalam Proses Pengawetan Kayu

Pilihlah produk pengawetan kayu yang bagus. Kami merekomendasikan Anda menggunakan Permethrine 125 EC. Insektisida tersebut kami rekomendasikan karena unggul dalam hal:

  • efektivitasnya membasmi serangga
  • target organisme yang luas
  • mudah diterapkan dengan sistem spray hingga sistem vakum tekan
  • bisa dilarutkan dengan air maupun solvent
  • relatif aman bagi manusia karena memiliki daya serap rendah pada kulit manusia
Permethrine 125 EC.
Permethrine 125 EC.

Untuk informasi dan pemesanan, silahkan hubungi Customer Care kami di +62.274.388.301 dan email di [email protected]

Leave a Comment