Peraturan Anti Rayap dan Perlunya Pemahaman Anti Rayap yang Lebih Modern

0
511
rayap

Meski belum dirasa optimal, tetapi terbitnya peraturan anti rayap, seperti pergub yang dikeluarkan Joko Widodo saat menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta dinilai merupakan langkah yang baik. Akan tetapi, seiring dengan kesadaran kita akan bahaya rayap, hendaknya paradigma kita memandang hama tersebut juga harus lebih modern dan holistik.

Rayap. Tak ada di antara kita yang tak mengenal rayap. Beberapa dari kita mungkin tak pernah melihatnya secara langsung. Akan tetapi, secara umum serangga ini dikenal di masyarakat luas. Rayap yang memiliki nama Inggris termite dianggap sebagai hama. Ia hama di rumah-rumah, hama di bangunan kearsipan, hama di gudang, dan bahkan hama di perkebunan milik swasta. Tak heran, meskipun terlambat dari banyak negara maju, Indonesia lewat beberapa perundangannya sudah menerbitkan peraturan anti rayap tersendiri. Selain dianggap sebagai hama, persepsi orang terkait serangga ini juga seringkali mengacu pada hal yang begitu negatif. Dibanding semut, misalnya, rayap dipandang lebih mampu mengundang rasa jijik.

Karena persepsi yang begitu buruk itu, banyak orang yang kemudian serta merta ingin menghabisi serangga ini. Banyak yang beranggapan secara tidak langsung, bahwa hama seperti rayap harus dimusnahkan begitu saja. Pemakaian zat anti rayap pun dilakukan secara tidak masuk akal. Selain berlebihan, kandungan yang dipakai pada berbagai obat juga seringkali sangat membahayakan lingkungan.

Apakah pandangan ini harus diubah? Tentu saja harus. Apalagi, seiring dengan diterbitkannya peraturan anti rayap oleh pemerintah.

Memahami Rayap secara Holistik

rayapRayap sejatinya tak berbeda dari berbagai serangga lain pada umumnya. Sebagai serangga, rayap memiliki tiga bagian tubuh dengan 3 pasang kaki. Hewan ini hidup secara berkoloni dengan ratu rayap yang mengeluarkan telur secara terus-menerus sepanjang hidupnya.

Di alam, sejatinya rayap memiliki peran yang begitu sentral. Ketika di rumah-rumah dan dalam kehidupan manusia secara umum, seranga ini dipersepsi sebagai hama, tidak demikian di alam bebas. Di hutan, contohnya.

pohon jatuhDengan kemampuannya untuk mencerna kayu, rayap akan membantu pembusukan batang tanaman yang roboh. Dengan cepat, nutrisi dalam pohon akan terurai menjadi komponen yang lebih kecil. Selanjutnya, bakteri pembusuk akan mengurai komponen-komponen tersebut menjadi zat hara yang akan dipakai untuk tumbuhan yang masih hidup. Siklus mengagumkan ini selanjutnya membentuk apa yang kita sebut sebagai siklus kehidupan dan daur ulang energi. Di hutan tropis dan daerah dengan iklim tropis, kecepatan siklus ini begitu luar biasa. Tak heran, jumlah rayap di dareah tropis pun tinggi, dengan aktivitas yang begitu intens.

Singkat kata, rayap memiliki peran begitu penting membuat tanah menjadi subur dan mengubah sampah organik menjadi hara yang bisa diserap tanaman baru. Peran penting rayap ini jelas tak bisa kita abaikan. Sebagai makhluk yang cerdas, idealnya manusia mampu membedakan kapan rayap menjadi hama, kapan rayap tidak menjadi hama, dan bagaimana pengendalian dilakukan tanpa mencederai keseimbangan yang ada di alam.

Pengendalian dan Pembasmian Rayap yang Masuk Akal

anti rayapSebagai hama, tidak bisa dipungkiri bahwa rayap bisa menyebabkan kerugian besar. Bahkan jumlah kerugian akibat serangan rayap bisa mencapai angka milyaran. Tipe kerugian kadang juga bukan berupa uang, misalnya ketika rayap menyerang dokumen dan arsip-arsip penting yang memiliki nilai sejarah. Karena itu, tetap diperlukan suatu sistem untuk pengendalian rayap, dan bila diperlukan sistem pembasmian untuk meminimalisir serangan rayap yang sudah terjadi. Namun demikia, sebagaimana disebut di atas, baik pengendalian ataupun pembasmian rayap hendaknya dilakukan dengan hati-hati. Harus dipahami bahwa:

  1. Pembasmian hanya boleh dilakukan pada rayap yang menjadi hama. Pembasmian tidak boleh mengenai rayap yang tidak menjadi hama. Misalnya, di area sebuah gedung, terdapat area yang menjadi sarang rayap. Area tersebut tak boleh dirusak begitu saja. Sebab akan merusak keseimbangan alam.
    Sebaiknya dilakukan pencegahan ketika terdapat sumber rayap di area kita.
  2. Pencegahan dilakukan dengan sistem pengendalian yang sifatnya sistemik. Misalnya dengan membuat tembok yang tebal, membersihkan gedung secara berkala, sampai menerapkan pengendalian rayap sistem injeksi.
  3. Pencegahan dan pengendalian tidak boleh menimbulkan efek yang menyebabkan kerugian pada alam. Misalnya, cairan obat rayap tidak boleh sembarangan dibuang ke aliran sungai.

Setidaknya tiga hal di atas sangat perlu dipahami ketika kita ingin mencegah, mengendalikan, dan membasmi rayap di gedung yang kita punyai.

Menanti Peraturan Anti Rayap yang Lebih Baik

induk rayap
induk rayap

Meningkatkan kesadaran akan bahaya rayap sekaligus memastikan bahwa pengendalian yang dilakukan tidak melampaui batas adalah hal yang sangat penting. Akan tetapi, hal seperti ini membutuhkan dukungan dari pemerintah. Kita tak bisa mengharapkan setiap orang untuk secara pribadi sadar dan menerapkan kesadaran tersebut sepenuh hati. Apalagi ketika kita sudah bicara dalam frame ”bisnis”. Persaingan usaha yang ketat, sering membuat perusahaan tak begitu mempedulikan hal-hal yang menurut mereka tidak menguntungkan. Sebagai akibatnya, banyak peraturan yang dilanggar yang beresiko pada kerusakan alam secara jangka pendek atau bahkan secara permanen.

Dukungan pemerintah dibutuhan, terutama dalam bentuk penerapan undang-undang yang baik. Di Indonesia sendiri, sejatinya sudah ada beberapa peraturan anti rayap, misalnya:

  1. UUBG 28/2002 pasal 18 ayat (1)
  2. PP 36 tahun 2005 pasal 33 ayat (1) dan Pasal 73 ayat (2)
  3. Pergub DKI No.35 tahun 2013
  4. UU No.1/2011 pasal 32

Keempat undang-undang ini perlu kita apresiasi. Tetapi tentu saja kita membutuhkan progress yang lebih baik, dalam konten undang-undang dan terutama dari segi penerapannya.

BioCide untuk Pengendalian Rayap Efektif yang Tidak Merusak Lingkungan

Melihat perlunya usaha untuk menerapkan tindak pengendalian rayap yang lebih baik, Bio Industries sebagai manufaktur produk kimia menghadirkan beberapa produk yang bisa kita gunakan. Untuk pengendalian dan pembasmian rayap, Anda bisa menggunakan Biocide Insecticide yang merupakan insektisida racun kontak dan lembung dengan zat aktif cypermethrin. BioCide Insecticide bisa digunakan pada berbagai kebutuhan, seperti:

  1. Treatment anti rayap pra konstruksi

    obat treatment anti rayap pra konstruksi
    Biocide Insecticide, antiserangga untuk pencegahan rayap 
  2. Treatment anti rayap pasca konstruksi
  3. Pembasmian rayap rumahan dan untuk kebutuhan profesional seperti gudang dan kearsipan
  4. Treatment anti rayap untuk pembuatan furniture dan kerajinan bahan kaya selulosa
  5. Pembasmian rayap pada furniture dan kerajinan bahan kaya selulosa

BioCide Insecticide diformulasikan secara khusus dan hati-hati sehingga memiliki kandungan efektif yang bisa membasmi rayap, namun tidak semembahayakan termisida yang lain. Dalam aplikasinya, insektisida ini juga bisa dilakukan dalam metode injeksi yang sangat baik dalam pengendalian rayap. Insektisida ini juga memiliki spektrum target organisme yang luas sehingga bisa dipakai untuk pengendalian ataupun pembasmian berbagai hama serangga non rayap seperti kecoa, semut, teter, dan berbagai kutu kayu.

Pemanfaatan BioCide Insecticide akan membantu Anda menerapkan sistem anti rayap yang lebih baik yang sesuai dengan peraturan anti rayap.

SHARE

Leave a Reply