Bayangkan sudah membeli kayu dengan tampilan menawan dan kokoh. Namun, belum genap satu tahun kayu sudah keropos dimakan rayap. Tentu sia-sia punya kayu berkualitas jika tingkat keawetannya rendah.
Pada dasarnya, rayap bisa menyerang berbagai jenis kayu. Serangga ini memakan selulosa, yaitu salah satu komponen utama penyusun kayu. Namun, bukan berarti semua kayu akan dimakan dengan tingkat serangan yang sama. Ada kayu yang lebih disukai rayap karena teksturnya lunak dan perlindungan alaminya rendah.
Setiap jenis kayu mempunyai tingkat keawetan alami yang berbeda. Faktor yang mempengaruhi kayu dimakan rayap diantaranya:
- Kekerasan kayu
- Kandungan zat ekstraktif. Beberapa jenis kayu mempunyai zat alami yang membuat rayap enggan memakannya.
- Umur pohon saat ditebang
- Lokasi pemakaian
Berikut beberapa jenis kayu yang lebih mudah dimakan rayap.
1. Kayu Sengon

Sengon banyak dipilih karena harganya relatif murah, ringan, dan mudah diolah. Kayu ini sering digunakan untuk membuat peti, papan, kerajinan, furniture, hingga komponen bangunan.
Namun, sengon termasuk jenis kayu lunak dengan keawetan alami yang rendah. Kayu ini tidak mempunyai perlindungan alami yang cukup kuat untuk menahan serangan rayap.
Teksturnya yang lunak membuat rayap lebih mudah menggigit dan menembus bagian dalam kayu. Risikonya semakin tinggi jika sengon digunakan di tempat lembap, dekat tanah, atau tidak mendapatkan melalui tahap pengawetan sejak awal.
Serangan rayap pada kayu sengon juga tidak selalu langsung terlihat. Bagian luar kayu bisa saja masih tampak utuh, sedangkan bagian dalamnya sudah berlubang dan keropos.
2. Kayu Pinus

Pinus (Pinus merkusii) mempunyai warna cerah dan pola serat yang menarik. Kayu ini juga ringan serta mudah dipotong, diamplas, dan dibentuk. Tidak heran jika pinus sering digunakan untuk rak, furniture, dekorasi interior, dan berbagai kerajinan.
Sayangnya, pinus termasuk jenis kayu yang mudah dimakan rayap jika tidak diberi perlindungan. Bagian kayunya yang lunak membuat rayap lebih mudah masuk dan memakan selulosa di dalamnya.
Proses pengeringan dan penyimpanan harus diperhatikan sebelum kayu digunakan. Memberikan cat atau pernis saja belum cukup untuk melindungi kayu pinus. Lapisan finishing memang melindungi dari paparan panas matahari dan air, tetapi tidak bisa menggantikan fungsi bahan pengawet anti rayap.
Pengawet perlu diaplikasikan sebelum proses finishing. Dengan begitu, perlindungan tidak hanya berada di lapisan paling luar, tetapi juga dapat masuk ke pori kayu.
3. Kayu Karet

Jenis kayu karet umumnya dimanfaatkan setelah pohonnya tidak lagi produktif menghasilkan lateks. Kayu ini dapat diolah menjadi furniture, papan laminasi, panel, serta berbagai komponen interior.
Dari segi pemanfaatan, kayu karet mempunyai potensi yang cukup besar. Namun, kayu ini tergolong kelas awet V. Artinya, ketahanan alaminya terhadap rayap dan organisme perusak kayu sangat rendah.
Tanpa pengawetan, kayu karet lebih mudah dimakan rayap dan mempunyai umur pakai yang lebih pendek. Bukan berarti kayu karet tidak bisa menghasilkan furniture berkualitas. Kayu ini tetap dapat digunakan selama proses pengeringan, pengawetan, penyimpanan, dan finishing dilakukan dengan benar.
Kayu yang baru digergaji juga perlu segera ditangani agar tidak terlalu lama berada dalam kondisi tanpa perlindungan.
4. Kayu Jati Muda

Kayu yang keras belum tentu selalu tahan rayap. Sebaliknya, kayu yang dikenal awet juga bisa lebih rentan jika berasal dari pohon yang masih terlalu muda. Jadi, memilih kayu tidak cukup hanya berdasarkan nama jenisnya.
Kayu jati terkenal sebagai salah satu jenis kayu keras yang tahan rayap. Secara umum, jati masuk kelas awet II. Namun, tingkat keawetan tersebut tidak selalu sama pada semua kayu jati.
Jati cepat tumbuh yang dipanen ketika umurnya masih kurang dari lima tahun mempunyai keawetan lebih rendah. Kayu jati muda bahkan dapat masuk kelas awet IV.
Semakin tua umur pohon, kandungan zat ekstraktif di dalam kayunya biasanya semakin tinggi. Zat ekstraktif merupakan senyawa alami yang ikut memberikan perlindungan terhadap rayap dan organisme perusak kayu lainnya. Pohon yang masih muda belum mempunyai kandungan zat ekstraktif sebanyak pohon yang sudah tua.
Itu sebabnya, jati muda lebih rentan dimakan rayap dibandingkan jati yang dipanen pada umur matang. Pertumbuhannya yang cepat juga tidak selalu diikuti dengan pembentukan perlindungan alami yang cukup.
Hal yang sama bisa terjadi pada jenis kayu lainnya. Meskipun suatu jenis kayu dikenal awet, kayu tersebut tetap dapat lebih mudah diserang rayap jika dipanen saat usianya masih terlalu muda.
Jadi, jangan langsung menganggap semua kayu jati pasti tahan rayap. Umur pohon saat ditebang tetap perlu diperhatikan.
Perhatikan lokasi penggunaan kayu
Lokasi penggunaan kayu juga penting. Kayu yang dipasang di dalam ruangan dan terlindung atap menghadapi risiko yang berbeda dengan kayu di luar ruangan.
Kayu outdoor lebih sering terkena hujan, udara lembap, panas matahari, dan perubahan suhu. Sementara itu, kayu yang bersentuhan dengan tanah mempunyai risiko lebih tinggi diserang rayap tanah.
Cara Mencegah Kayu Dimakan Rayap
Masalahnya, jumlah jenis kayu yang masuk kelas awet I dan II diperkirakan hanya sekitar 15%. Artinya, sebagian besar kayu yang digunakan untuk furniture dan bangunan tidak tahan terhadap serangan rayap dan butuh proses pengawetan.
Terapkan pengawetan kayu anti rayap berikut agar terhindar dari kerugian di kemudian hari.
- Cara pertama untuk mencegah kayu dimakan rayap adalah memilih jenis kayu tahan rayap.
- Periksa kelas awet, umur pohon saat dipanen, kondisi kayu, dan tempat kayu akan digunakan.
- Jika kayu yang dipilih termasuk kelas awet rendah, berikan bahan pengawet anti rayap sejak awal. Jangan baru melakukan penanganan setelah kayu berlubang atau keropos.
- Gunakan Biocide Insecticide untuk melindungi kayu dari serangan rayap dan serangga perusak. Bahan pengawet yang masuk ke dalam kayu membuat rayap tidak lagi bebas memakan komponen kayu tersebut.
Biocide Insecticide dapat diaplikasikan dengan metode kuas atau perendaman. Metode kuas cocok untuk kebutuhan rumahan atau kayu berukuran kecil. - Aplikasikan bahan pengawet pada seluruh permukaan kayu. Berikan perhatian lebih pada ujung potongan, sambungan, celah, lubang, dan bagian yang nantinya sulit dijangkau setelah kayu dirakit.
- Untuk kayu yang baru ditebang, kayu log, papan hasil penggergajian, atau kebutuhan industri pengolahan kayu, metode perendaman lebih disarankan. Perendaman membantu larutan pengawet masuk lebih merata ke dalam kayu.
- Industri pengolahan kayu juga dapat menggunakan metode vakum. Cara ini lebih efektif untuk membantu bahan pengawet masuk lebih dalam ke jaringan kayu.
Setelah proses pengawetan selesai, biarkan kayu mengering sebelum masuk ke tahap perakitan dan finishing. Dengan perlindungan sejak awal, kayu kelas awet rendah tetap dapat digunakan dengan umur pakai yang lebih panjang.
Jadi, kayu dimakan rayap bukan hanya karena jenis kayunya. Umur pohon, kondisi lingkungan, lokasi penggunaan, dan proses pengawetan juga ikut menentukan. Pilih kayu yang tepat dan gunakan Biocide Insecticide sejak awal agar serangan rayap dapat dicegah sebelum menimbulkan kerusakan.
Baca juga : Mengenal Biocide Insecticide, Produk Insektisida Kayu Berkualitas




