Pernah dengar garam bisa mengawetkan kayu? Apakah cara mengawetkan kayu dengan garam bisa jadi solusi agar kayu tidak mudah lapuk dan diserang rayap?
Banyak orang melirik metode alami ini karena garam murah, mudah didapatkan, dan sudah digunakan sejak lama. Apalagi dengan sifat alaminya, bahan ini tergolong bebas bahan kimia pengawet berbahaya.
Namun, seberapa efektifkan garam dalam menjaga kayu agar tetap awet dan tahan rayap jika dibandingkan metode modern? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Anda bisa memahami cara kerja garam, kelebihan, serta keterbatasannya dalam mengawetkan kayu.
Mengenal Cara Pengawetan Kayu dengan Garam
Garam adalah salah satu bahan alami untuk mengawetkan kayu. Cara kerjanya adalah dengan memanfaatkan sifat garam dalam menghambat pertumbuhan jamur dan organisme perusak kayu.
Garam bekerja dengan menciptakan lingkungan yang tidak ideal bagi rayap dan mikroorganisme untuk hidup.
Saat larutan garam meresap ke dalam serat kayu, kadar kelembapan di dalam kayu menjadi lebih terkontrol. Kondisi inilah yang membuat kayu tidak mudah lapuk serta mengurangi risiko serangan rayap dalam jangka waktu tertentu.
Metode ini banyak diterapkan pada kayu untuk kebutuhan rumah tangga, furniture indoor, dan konstruksi kayu ringan. Meski tergolong sederhana, hasilnya cukup efektif jika dilakukan dengan langkah yang benar.
Kelebihan dan Kekurangan Mengawetkan Kayu dengan Garam
Sebelum menerapkan metode ini, penting memahami kelebihan dan kekurangan garam agar penggunaannya sesuai kebutuhan. Dengan begitu, hasil pengawetan kayu akan lebih optimal dan tidak menimbulkan ekspektasi berlebihan.
Kelebihan
Keunggulan pengawetan kayu dengan garam adalah biayanya yang murah dan bahan yang mudah ditemukan. Proses aplikasinya juga relatif aman karena tidak menggunakan bahan kimia berbahaya.
Selain itu, metode ini ramah lingkungan dan tidak menimbulkan bau menyengat. Garam juga tidak merusak serat kayu jika digunakan dengan takaran yang tepat.
Kekurangan
Pengawetan kayu dengan garam memiliki kekurangan dari segi daya tahannya yang tidak sekuat pengawet kimia industri. Kayu tetap membutuhkan perawatan ulang terutama jika berada di lingkungan yang lembap.
Metode ini juga kurang efektif untuk kayu yang sering terkena hujan atau kontak langsung dengan tanah. Tanpa perlindungan tambahan, efek pengawetan bisa berkurang lebih cepat.
Baca Juga: Pengawetan Kayu secara Tradisional
Jenis Garam yang Bisa Digunakan untuk Mengawetkan Kayu
Tidak semua jenis garam memberikan hasil yang sama dalam proses pengawetan kayu. Pemilihan jenis garam sangat memengaruhi tingkat efektivitas dan daya tahan hasil pengawetan.
Garam dengan kandungan murni tanpa banyak campuran menjadi pilihan terbaik. Hal ini bertujuan agar tidak ada residu yang mengganggu struktur kayu. Berikut ini dua jenis terbaiknya:
Garam Dapur
Merupakan jenis garam yang paling sering digunakan karena mudah didapat dan harganya murah. Kandungan natrium klorida di dalamnya cukup efektif untuk menghambat jamur dan rayap.
Cocok digunakan untuk pengawetan kayu furnitur dan kebutuhan rumah tangga. Namun, pastikan tidak menggunakan garam dengan campuran bahan tambahan berlebihan.
Garam Kasar
Disebut juga sebagai garam laut karena lebih alami dan minim proses kimia dalam pembuatannya. Kandungan mineral alaminya dapat membantu meningkatkan efektivitas pengawetan kayu.
Butiran garam kasar memang membutuhkan waktu lebih lama untuk larut. Namun, hasil pengawetannya cenderung lebih tahan lama jika diaplikasikan dengan benar.
Alat dan Bahan yang Dibutuhkan
Untuk mengawetkan kayu dengan garam, alat dan bahan yang dibutuhkan tergolong sederhana dan mudah ditemukan. Meski sederhana, penggunaan alat yang tepat akan sangat memengaruhi hasil.
Berikut ini alat dan bahan yang perlu Anda perhatikan:
- Garam dapur atau garam kasar secukupnya.
- Air bersih (air hujan lebih disarankan)
- Ember, drum, atau wadah besar untuk melarutkan garam.
- Tingkat atau alat pengaduk.
- Kuas atau spray untuk aplikasi larutan.
- Sarung tangan kerja untuk keamanan.
- Terpal atau alas plastik untuk tempat pengeringan kayu.
Cara Mengawetkan Kayu Menggunakan Garam
Agar pengawetan kayu memberikan hasil yang efektif, setiap tahapan harus Anda lakukan dengan teliti dan tidak tergesa-gesa. Proses ini menentukan seberapa dalam larutan garam meresap ke serat kayu dan lama daya tahannya.
Menyiapkan Kayu
Langkah awal adalah memastikan kayu yang akan diawetkan dalam kondisi bersih dari kotoran, debu, dan sisa kulit kayu. Kotoran yang menempel dapat menghambat penyerapan larutan garam ke dalam pori-pori kayu.
Kayu sebaiknya berada dalam kondisi setengah kering atau kadar airnya tidak terlalu tinggi. Kayu yang terlalu basah membuat larutan garam sulit meresap, sedangkan kayu yang terlalu kering cenderung menyerap larutan secara tidak merata.
Jika memungkinkan, potong kayu sesuai ukuran akhir sebelum diawetkan. Cara ini membantu larutan garam melindungi seluruh bagian kayu, termasuk ujung serat yang paling rentan terhadap serangan rayap.
Membuat Larutan Garam
Larutan garam dibuat dengan mencampurkan garam ke dalam air bersih hingga mencapai tingkat keasinan yang cukup kuat. Perbandingan umum yang bisa digunakan adalah sekitar 1 kg garam untuk 5–10 liter air.
Aduk larutan secara menyeluruh hingga seluruh garam benar-benar larut dan tidak ada endapan di dasar wadah. Larutan yang tidak merata akan menghasilkan pengawetan yang tidak konsisten pada permukaan kayu.
Untuk mempercepat proses pelarutan, Anda dapat menggunakan air hangat. Namun, pastikan larutan sudah berada pada suhu normal sebelum diaplikasikan ke kayu agar tidak merusak struktur seratnya.
Mengaplikasikan Larutan Garam ke Kayu
Pengaplikasian larutan garam dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu perendaman, pengolesan, atau penyemprotan. Pemilihan metode tergantung pada ukuran kayu, jumlah kayu, serta fasilitas yang tersedia.
Metode perendaman dilakukan dengan memasukkan kayu ke dalam larutan garam selama 24 hingga 72 jam. Cara ini paling efektif karena larutan mampu meresap hingga ke bagian dalam kayu secara merata.
Untuk kayu berukuran besar, metode pengolesan atau penyemprotan bisa menjadi alternatif. Pengolesan dilakukan menggunakan kuas dengan arah searah serat kayu dan diulang sebanyak dua hingga tiga kali agar hasilnya optimal.
Proses Pengeringan Kayu
Setelah larutan garam diaplikasikan, kayu harus melalui proses pengeringan yang benar. Kayu sebaiknya dikeringkan di tempat teduh yang memiliki sirkulasi udara baik.
Hindari pengeringan di bawah sinar matahari langsung karena dapat menyebabkan kayu retak atau melengkung. Proses pengeringan alami membantu garam mengikat serat kayu secara lebih stabil.
Waktu pengeringan bervariasi tergantung ukuran dan jenis kayu, namun umumnya memerlukan waktu antara tiga hingga tujuh hari. Kayu dikatakan kering ketika permukaannya tidak lagi lembap dan terasa ringan saat diangkat.
Tips Pengawetan Kayu dengan Garam agar Lebih Maksimal
Jika ingin hasil pengawetan lama, maka beberapa tips berikut akan sangat membantu:
1. Lakukan Pengawetan Sebelum Kayu Digunakan
Pengawetan sebaiknya dilakukan sebelum kayu dirakit atau dipasang. Cara ini memastikan seluruh permukaan kayu terlindungi secara menyeluruh.
2. Gunakan Konsentrasi Larutan yang Tepat
Larutan garam yang terlalu encer kurang efektif menghambat rayap. Gunakan larutan dengan rasa asin kuat agar daya pengawetannya maksimal.
3. Ulangi Pengawetan Secara Berkala
Untuk furnitur indoor, pengawetan ulang bisa dilakukan setiap beberapa bulan. Perawatan berkala membantu menjaga kayu tetap awet dalam jangka panjang.
4. Simpan Kayu di Tempat Kering
Lingkungan penyimpanan sangat memengaruhi hasil pengawetan. Kayu yang disimpan di tempat kering dan berventilasi akan lebih tahan terhadap jamur dan rayap.
5. Kombinasikan dengan Lapisan Pelindung
Mengombinasikan pengawetan garam dengan pelitur atau cat kayu akan meningkatkan perlindungan. Cara ini sangat efektif untuk memperpanjang umur kayu tanpa menghilangkan kesan alami



