Mengenal Berbagai Metode Pengendalian Rayap

Mungkin, banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghentikan aktivitas rayap, misalnya dengan penggunaan pestisida anti rayap. Pestisida ini sudah direalisasikan melalui tanah maupun pengawetan kayu. Tujuannya ialah untuk membentuk penghalang kimia yang dapat menghentikan aktivitas koloni rayap yang sering memangsa kayu. Sayangnya upaya ini dianggap tidak ramah lingkungan. Di bagian ini akan dibahas beberapa metode pengendalian rayap serta cara pengendaliannya secara kimia.

Dengan semakin berkembangnya teknologi dan semakin inovatifnya rayap menyerang bangunan gedung dan kapal maka semakin berkembang pula jenis termetisida, peralatan yang digunakan, dan cara penanganannya. Termetisida merupakan bahan kimia untuk membasmi rayap. Namun, sebenarnya ada beberapa metode pengendalian rayap, khususnya rayap tanah yang sangat merugikan, antara lain sebagai berikut.

Pengendalian dengan cara fisik

Cara pengendalian ini dilakukan dengan membentuk penghalang di bawah lapisan tanah bangunan untuk mencegah penetrasi rayap ke dalam bangunan. Bahan yang digunakan sebagai penghalang antara lain pasir, perlit, granit, mesh stainless steel, dan sebagainya. Memang, metode pengendalian secara fisik ini sudah dilakukan di beberapa negara seperti:

  1. Di Amerika serikat pengendalian secara fisik menggunakan partikel pasir berukuran 2,0 – 2,8 mm yang efekif menghambat penetrasi rayap tanah reteculitermes dan coptotermes.
  2. Di Hawai, pengendalian cara fisik dilakukan dengan menggunakan butiran-butiran basalt berukuran 1,7 – 2,4 mm yang kemudian di pasarkan dengan nama Basaltic Termite Barrier.
  3. Di Australia, pengendalian rayap secara fisik dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya menggunakan granit yang dipasarkan dengan nama Granitguard dan menggunakan jaring stanless steel yang dipasang di bawah bangunan baru.
  4. Di Jepang, modifikasi pengendalian cara fisik yang dilakukan untuk mencegah penetrasi rayap sedang diuji cobakan, yaitu dengan cara pestisida anti rayap dicampurkan pada polimer sintesis, kemudian diletakkan di bawah bangunan gedung pada bagian atasnya ditutupi lapisan tanah.

Pengendalian dengan cara hayati

Pengendalian dengan cara hayati menggunakan musuh alami dari rayap, misalnya jamur dan bakteri. Metode ini sudah dikenal di Amerika Serikat dan sudah terdafar di EPA AS sejak tahun 1994. Namun, di Indonesia penggunaan cara ini tidak begitu populer.

Pengendalian dengan cara kimia

Pengendalian dengan cara kimia juga biasa disebut pengendalian dengan memberikan perlakuan bahan kimia pada lapisan tanah. Prinsip dasar pengendalian ini adalah pembentukan barrier dari bahan kimia pada lapisan tanah untuk mencegah penetrasi rayap ke dalam bangunan.

Perlakuan pengendalian cara kimia ini adalah dengan memberikan racun kimia melalui tanah maupun pengawetan kayu. Bahan kimia yang diberikan adalah pestisida anti rayap yang disebut dengan termetisida. Pestisida anti rayap disuntikkan ke dalam tanah di sekeliling bangunan dengan tujuan untuk membuat pagar kimia sehingga dapat dicegah naiknya koloni rayap dari dalam tanah ke atas bangunan. Cara ini lebih efektif walaupun dianggap kurang ramah lingkungan.

Berdasarkan cara aplikasi dan praktiknya, metode pengendalian cara kimia dapat dibedakan menjadi dua cara, yaitu sebelum masa kontruksi atau pembangunan dan sesudah dikontruksi atau sesudah rumah dibangun.

Sebelum rumah dibangun (preconstruction)

Aplikasi pengendalian rayap ini merupakan metode pengendalian yang diarahkan pada rumah atau bangunan yang sedang dalam pembangunan atau belum jadi. Adapun tahapan pengendaliannya meliputi:

  1. Pemberian perlakuan pada lubang fondasi dan pada fondasi yang telah terpasang sebelum tanah diurug dengan dosis aplikasi 5 liter dan konsentrasi sesuai label pada kemasan.
  2. Pemberian perlakuan pada tanah yang akan dipasang lantai dengan dosis aplikasi 5 liter/meter persegi dan konsentrasi larutan sesuai petunjuk pada label.
  3. Pemberian perlakuan pada kayu dengan cara vakum tekan, perendaman, atau pelaburan yang menggunakan konsentrasi larutan sesuai petunjuk pada label.

Setelah rumah dibangun (postcontruction)

Pada rumah yang sudah dibangun, pengendalian rayap diarahkan ke bangunannya. Adapun pengendalian rayap tersebut dapat dilakukan dengan cara injeksi pada fondasi, penyemprotan atau pelaburan komponen kayu bangunan. Perlakuan setelah dibangun dapat dibagi menjadi 3, yakni perlakuan injeksi pada fondasi, perlakuan penyemprotan atau pelaburan pada permukaan kayu, dan perlakuan pengumpanan.

injeksi

  1. Lakukan pengeboran pada sisi kiri dan kanan fondasi dengan jarak antarlubang 30-40 cm, jarak pengeboran dari dinding sekitar 15 cm, dan kedalaman lubang harus mencapai tanah.
  2. Injeksikan larutan bahan kimia ke dalam lubang yang telah tersedia. Jumlah larutan yang diinjeksikan sebanyak 5 liter per linear meter atau dua liter larutan per lubang. Konsentrasi larutan tergantung pada jenis bahan kimia yang digunakan dan biasanya tercantum pada label kemasannya.
  3. Lakukan penutupan lubang injeksi setelah proses injeksi selesai dilakukan.

Penyemprotan atau pelaburan

Pengendalian ini dilakukan dengan cara permukaan kayu pada komponen bangunan disemprot atau dilaburi dengan bahan anti rayap. Bila dianggap perlu, lakukan pengeboran dan injeksi pada kayu yang memang sudah terserang oleh rayap.

Perlakuan pengumpanan

Cara pengumpanan dilakukan dengan tujuan untuk memancing rayap memangsa umpan yang sudah diberi insektisida. Bila aktivitas rayap untuk memangsa terhenti selama dua bulan, koloni rayap dianggap sudah musnah. Cara dan spesifikasi lengkap terhadap cara kimia ini akan dibahas lebih lanjut pada bab tersendiri.

 

Leave a Comment